Tampilkan postingan dengan label kabar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kabar. Tampilkan semua postingan

19 September 2008

Sejarah Tan Malaka di Balik Lemari

Oleh: Febrianti/PadangKini.com

PADA pagi yang masih berkabut di Bukittinggi, kami bersiap berangkat mengunjungi rumah Tan Malaka di Pandan Gadang, Limapuluh Kota, sekitar 80 kilometer ke arah utara Bukittinggi.

Saya duduk di sebelah sejarawan Belanda Harry A. Poeze, seorang peneliti yang mencurahkan waktu selama 30 tahun untuk Tan Malaka. Teman seperjalanan lainnya adalah Zulhasril Nasir, guru besar Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia, Roger Tol, direktur KITLV Jakarta dan Eri Ray, seniman Padang yang kami tumpangi mobilnya.

Sementara di belakang, dengan bus pariwisata, ada 28 peserta lain yang akan mengunjungi rumah Tan Malaka, di antaranya sejarawan Mestika Zed, mahasiswa sejarah, mahasiswa seni, dan guru. Keluarga Tan Malaka memperingati 59 tahun kematian pejuang revolusioner itu tepat 21 Februari lalu.

Mobil dan bus mulai beriringan keluar dari halaman hotel tempat kami menginap. Tiba-tiba Harry Poeze berkata kepada Eri Ray.

"Bisakah kita sebentar ke sekolah Tan Malaka, saya ingin melihat lagi sekolah itu dan ambil beberapa gambar," katanya.

Mobil berbelok ke SMA Negeri 2 Bukittinggi, sementara bus terus melanjutkan perjalanan ke Pandan Gadang. Gedung sekolah Tan Malaka semasa di Kweek School masih kokoh berdiri, kini berubah menjadi SMA Negeri 2 Bukittinggi.

Dulunya sekolah ini juga dinamai Sekolah Raja, karena hanya anak-anak Belanda dan anak bangsawan pribumi atau anak orang kaya yang bisa bersekolah di tempat ini, salah satunya Tan Malaka.

Tan Malaka sekolah di Kweek School selama enam tahun dan lulus dengan nilai baik, karena dia anak terpintar dari semua teman sekolahnya. Ia lalu melanjutkan sekolahnya ke Belanda.

Harry A. Poeze turun dan memeriksa dinding ruang guru mencari-cari sesuatu.

"Saya mencari prasasti sekolah ini dan prasasti yang menerangkan tentang Nawawi Sutan Makmur yang pernah menjadi satu-satunya guru pribumi di tempat ini," kata Harry.

Prasasti yang dicari-cari akhirnya ketemu. Prasasti yang menempel di dinding yang menerangkan pendirian Kweek School tahun 1873-1908. Sementara itu satu prasasti lagi yang menerangkan tentang Engku Nawawai Sutan Makmur yang pernah menjadi guru di Kweek School tersembunyi di balik lemari.

Melihat itu, Zulhasril Nasir, penulis buku Tan Malaka dan Gerakan Kiri Minangkabau geleng-geleng kepala.

"Ini aset lho Pak Guru, kok malah ada di balik lemari, harusnya kita hargai, ini malah orang Belanda yang lebih menghargai bangsa kita," sindirnya kepada guru-guru yang ada di ruangan itu.

Asrama Tan Malaka Menjadi Asrama Polisi

Kepala SMA Negeri 2 Bukittinggi Muslim mengatakan kepada Harry Poeze, ia sendiri tidak tahu sejarah sekolahnya. Harry tersenyum mendengarnya. Budi Fitriza, guru sejarah sekolah itu malah bercerita, pernah memberi tugas kepada siswanya untuk menuliskan sejarah sekolah itu, dan siswanya membuat laporan berdasarkan bahan di internet.

"Beri alamat email Anda, nanti saya kirimkan foto-foto sekolah ini dan sejarahnya dari Belanda, sekolah ini pantas ditukar namanya menjadi Sekolah Tan Malaka," kata Harry.

Dari informasi Kepala Sekolah diketahui, asrama yang pernah ditempati Tan Malaka saat bersekolah dulu masih ada, tapi kini sudah menjadi asrama polisi di belakang sekolah.

"Saya senang, sekolah ini masih tetap berdiri, tidak hancur karena perang dan gempa bumi, padahal sudah satu abad, luar biasa," kata Harry saat kami keluar dari gerbang sekolah.

Kami meneruskan perjalanan ke Payakumbuh sambil memakan kerupuk sanjai, dakak-dakak, dan paniaram, makanan khas Payakumbuh. Harry Poeze mencicipi sepotong paniaram, kue yang terbuat dari tepung beras dan gula aren.

"Rasanya mirip salah satu kue di Belanda," kata pencinta masakan Indonesia ini.

Harry beruntung karena salah satu anak lelakinya punya istri orang Indonesia dan kini tinggal di Surabaya.

"Tiap ke sini saya diundang makan masakan tradisional Indonesia di rumah mereka," katanya.

Perjalanan mengunjungi kampung halaman Tan Malaka bagi Harry Poeze juga seperti menapaki jejaknya sendiri. Saat pertama kali berkunjung, pada 1976 ia datang bersama istrinyam Henny Poeze untuk memulai penelitiannya ke kampung Tan Malaka.

"Waktu itu saat sampai di Suliki, sekitar 10 km dari Pandan Gadang, kami bertemu dua serdadu dan melarang kami ke Pandan Gadang, serdadu itu mengatakan desa itu terlarang dimasuki, tetapi saya dan Henny berpura-pura menjadi turis biasa yang tidak tahu bahasa Indonesia, akhirnya kami berhasil ke Pandan Gadang," kenang Harry.

Di rumah Tan Malaka ia bertemu dengan keponakan Tan Malaka yang menempati rumah tua itu. Di kampung itu ia menggali masa kecil Tan Malaka dengan penduduk yang masih mengenal tokoh itu.

Jejak Tan Malaka di 2Benua

"Tan Malaka orang yang luar biasa dan petualangannya sangat menarik, saya harus melintasi 2 benua dan 11 negara untuk mencari jejak sejarahnya, jejaknya ada di mana-mana," kata Harry memberi alasan ketertarikannya kepada Tan Malaka.

Ia menghabiskan waktu selama 30 tahun untuk meneliti Tan Malaka. Termasuk 10 tahun untuk menulis buku Tan Malaka, Dihujat dan Dilupakan, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia 1945-1949 yang diluncurkan Juli tahun lalu dalam bahasa Belanda.

Sedangkan dalam bahasa Indonesia saat ini masih diterjemahkan dibagi dalam 6 jilid. Jilid pertama menurut Harry direncanakan akan terbit tahun ini.

Dari Payakumbuh, kami melewati Jalan Tan Malaka, salah satu jalan utama di Kota Payakumbuh arah ke luar kota. Jalan raya ini terbentang sepanjang 48 kilometer dari Pusat Kota Payakumbuh hingga ke Koto Tinggi di Kabupaten Limapuluh Kota. Jalan dengan aspal mulus ini akan melewati rumah Tan Malaka di Pandan Gadang.

Keluar dari Kota Payakumbuh, pemandangan pedalaman Ranah Minang yang asri mulai terhampar di depan mata. Roger Tol tak berhenti berdecak kagum. Pemandangan yang kami lewati memang amat menawan, lembah dengan sawah yang menghijau terbentang di kaki bukit, dipagari pohon-pohon kelapa. Di belakangnya berlapis-lapis bukit hijau dan biru menjadi latar yang indah ditambah dengan langit berawan putih di atasnya.

"Ini seperti sorga, kenapa Tan Malaka meninggalkan tempat seindah ini?" kata Roger Tol kepada Harry.

Harry tersenyum memandang ke luar jendela. "Dia kan harus pergi merantau," jawabnya.

Sampai di Pandan Gadang kami disambut keluarga besar Tan Malaka yang mengenakan pakaian adat. Henri, seorang keluarga keturunan Tan Malaka dari garis ibu kini mewarisi gelar Datuk Tan Malaka yang menambah panjang namanya menjadi Henri Datuk Tan Malaka. Ia mengenakan pakaian datuk kuning terang.

Rumah Tan Malaka hanya sekitar 100 meter menuruni jalan setapak dari jalan raya. Ada rumah adat minang bergonjong dan tua. Di bagian depan teras tertulis ‘Tan Malaka'. Rumah itu adalah rumah adat Tan Malaka yang dihuni turun-temurun oleh keluarganya dari pihak ibu, sesuai garis keturunan materilineal di Minangkabau.

Rumah ini terletak di lembah yang subur. Suasana amat tenang, hanya suara air yang mengaliri sawah yang terdengar. Di tepi sawah dan diapit puluhan pohon kelapa yang tinggi, terpencil dari rumah lainnya. Di depan rumah terdapat 11 kolam ikan yang ditumbuhi teratai, dan berair jernih. Di depan rumah menjulang bukit yang hijau ditumbuhi pohon dan perdu.

Acara Tanpa Bantuan Pemerintah

Untuk memperingati kematian Tan Malaka, keluarga besarnya menggelar tahlilan selama satu jam. Keluarga besar Tan Malaka, KITLV dan Pusbitdem (Pusat Studi Penerbit dan Pustaka Demokrasi) menggelar acara ini tanpa bantuan pemerintah. Sehari sebelumnya, mereka juga menggelar seminar di Bukittinggi tentang Tan Malaka.

"Kita mencoba menanam benih, mudah-mudahan ini tumbuh besar," kata Asmun A. Sjueib, ketua panitia.

Diawali dengan pantun petatah petitih Minangkabau dan irama talempong, museum sederhana itu diresmikan oleh Direktur Nilai Sejarah Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Magdalia Alfian.

Enam bulan lalu rumah ini masih dihuni Indra Ibnur Ikatama dan keluarganya. Indra adalah satu-satunya keturunan keluarga Tan Malaka dari garis ibu yang tinggal di kampung. Indra adalah cicit saudara perempuan dari ibu Tan Malaka.

Ibu Tan Malaka bernama Sinah, hanya memiliki dua anak laki-laki, Ibrahim Datuk Tan Malaka (Tan Malaka) dan adiknya Kamaruddin. Sinah hanya dua bersaudara dengan Janah, juga perempuan. Indra adalah cicit dari Janah.

Rumah bagonjong milik keluarga Tan Malaka masih kokoh berdiri. Atapnya seng bergonjong 5 dengan banyak jendela berkaca patri. Beberapa kaca sudah pecah. Dindingnya kayu dan anyaman bambu. Lantainya juga kayu.

"Rumah ini dibangun sejak 1826, namun Tan Malaka lahir di rumah surau yang kini sudah menjadi sawah, saat dia diangkat menjadi datuk, baru dibawa ke rumah ini," kata Ani Zarni salah seorang keluarga Tan Malaka.

Harry Poeze disambut bak teman lama keluarga. Semua keluarga Tan Malaka sudah mengenalnya. Ia menyerahkan bukunya yang beratnya 5 kilogram itu untuk koleksi pustaka.

"Pak Harry sering ke rumah saya di Jakarta, dan tiap kali makan masakan Minang selalu minta catatkan resepnya,resep rendang, resep pangek ikan, pokoknya apa saja yang baru saya disuruh catat," kata Anna Yuliar, adik Ani Zarni.

Saat naik ke rumah ini, menaiki undakan setinggi 1,5 meter, ruang tamu dan ruang keluarga terlihat sudah menyatu tanpa sekat. Di dalamnya kini ada lemari kaca yang menyimpan buku-buku Tan Malaka dan buku-buku yang membahas Tan Malaka. Koleksi lainnya adalah baju Tan Malaka saat menjadi datuk, piringan hitam dan pemutarnya, tempat tidur dan foto-foto Tan Malaka.

Menurut Ani Zarni, pada masa pemberontakan PRRI, rumah gadang ini pernah menjadi dapur umum untuk pejuang PRRI.

"Saya masih ingat saat itu berumur 10 tahun, kami lari ke bukit dan saya dipaksa menembakkan senapan dari atas bukit," kata Ani Zarni.

Buku-bukunya Dibakar

Dimasa itulah buku-buku dan barang pribadi Tan Malaka terpaksa banyak yang dibakar, untuk menghilangkan jejak agar tidak disangka pemberontak.

Untuk memastikan kematian Tan Malaka, keluarga Tan Malaka sudah sepenuhnya menyerahkannya kepada Harry Poeze untuk mengurusnya.

"Tahun lalu saya sudah tanyakan tentang kemungkinan pembongkaran kuburan yang kita duga kuburan Tan Malaka, dan pihak keluarga sudah setuju, Menteri membentuk tim, tapi sampai kini masih belum ada penyelesaian," kata Harry.

Sejarawan Mestika Zed yang ikut dalam rombongan, mengaku terkesan melihat rumah Tan Malaka karena ini kedatangannya yang pertama.

"Saya termasuk orang yang kelam jalan ke sini, dan tempat ini sangat indah, sebuah lembah yang punya ruangan yang sangat sehat dan lingkungan yang jarang didapat, saya terkesan dengan lingkungan ini, tapi juga punya korelasi dengan si tokoh dalam arti memberikan inspirasi untuk seorang tokoh, saya kira lingkungan seperti ini akan melahirkan generasi yang sehat karena lingkungannya enak," katanya.

Lewat tengah hari kami pulang. Harry mengaku senang sekali karena rumah Tan Malaka kini sudah dijadikan museum.

"Berarti ada kemajuan dan lebih mudah mengumpulkan barang-barang yang berhubungan dengan Tan Malaka," katanya.

Dalam perjalanan pulang beberapa kali ia minta berhenti dan memotret kampung halaman Tan Malaka yang indah itu. (febrianti)

sumber: www.padangkini.com

18 September 2008

Perempuan dalam Kehidupan Tan Malaka


Oleh: Febrianti/PadangKini.com

PERNAHKAH Tan Malaka mencintai perempuan? Pertanyaan seperti ini banyak menggoda setiap orang. Selama ini Tan Malaka lebih dikenal sebagi pejuang yang revolusioner yang tidak pernah terlihat dekat dengan perempuan. Jarang sekali kehidupan pribadinya dibicarakan, apalagi yang berkaitan dengan perempuan.

"Ada beberapa perempuan yang singgah di hatinya," kata Harry A. Poeze, peneliti Tan Malaka.

Perempuan pertama, kata Harry, adalah Syaripah Nawawai, teman sekolah Tan Malaka semasa di Kweek School di Bukittinggi. Syaripah adalah anak Nawawi Sutan Makmur, guru bahasa Melayu dan satu-satunya guru pribumi di sekolah itu. Syaripah juga satu-satunya perempuan pribumi yang bersekolah di tempat itu.

"Tan Malaka jatuh cinta kepada Syaripah, kemungkinan karena ini Tan Malaka menolak bertunangan dengan gadis di kampungnya, Pandan Gadang, saat ia akan berangkat ke Belanda," kata Harry.

Pada waktu Tan Malaka pergi ke Belanda. Maka dia kirim surat pada Syaripah dan bilang ia mencintai Syaripah dan berharap Syaripah mau menunggunya. Namun surat-surat itu tidak dibalas. Tan Malaka bertepuk sebelah tangan, ternyata Syaripah tidak mencintainya.

"Saya pernah bertemu Syaripah pada 1980-an, sebelum beliau meninggal, Syaripah yang menceritakan isi surat Tan Malaka itu kepada saya, saya menanyakan kenapa Syaripah tidak mencintai Tan Malaka, Syaripah mengatakan bahwa Tan Malaka orang yang aneh," ujarnya.

Karena Syaripah tidak pernah membalas suratnya, Tan Malaka berhenti menulis surat kepadanya. Syaripah akhirnya menikah dengan seorang regent atau bupati di Bandung yang sudah memiliki dua orang selir.

"Ini sejarah yang sedikit tragis dan lucu," ujar Harry.

Di Belanda, saat bersekolah, Tan Malaka juga pernah punya pacar, namanya Fenny Struyuenberg, seorang mahasiswa kedokteran. "Namun saya tidak sempat menemui Fenny, karena Fenny mati muda," kata Harry.

Di dalam satu surat kabar lama di Rusia juga pernah disebutkan Tan Malaka memiliki kekasih gadis Rusia, tetapi tidak disebutkan namanya, apalagi fotonya.

Setelah 20 tahun mengembara, pulang ke Indonesia pada 1945, Tan Malaka bertemu dengan Paramita Abdul Rahman. Paramita adalah keponakan Subarjo Djoyohadisuryo, Menteri Luar Negeri saat itu. Paramita adalah ketua Palang Merah Indonesia ketika itu.

Paramita dianggap tunangan Tan Malaka, namun ‘pertunangan' ini akhirnya kandas.

Kepada Harry Poeze Paramita mengatakan Tan Malaka seorang yang mengidolakan perempuan seperti R A Kartini dan dalam tingkah laku harus ada simbol perempuan Indonesia.

"Bagi Paramita yang cinta sekali dengan Tan Malaka ini peristiwa yang sangat sulit dan sukar dibicarakan, hingga tua bahkan Paramita tidak menikah," kata Harry.

"Kata SK Trimurti kepada saya, dalam bidang perempuan Tan Malaka adalah orang yang sangat bersih, dia amat menghormati perempuan, ini berbeda sekali dengan Soekarno," kata Harry.

Namun dalam surat yang ditulis Tan Malaka, Tan Malaka bilang, dalam hidupnya hanya ada satu tujuan, memerdekakan Indonesia dari Belanda.

"Saya kira Tan Malaka seperti beberapa orang revolusioner lainnya di dunia, yang hanya punya satu tujuan dalam hidupnya, tidak untuk perempuan, dalam kesimpulan ini, Tan Malaka tidak punya waktu untuk perempuan, tujuannya hanya revolusi, mungkin sesudah revolusi baru ada tempat untuk perempuan, tetapi ia meninggal sebelum revolusi selesai." (Febrianti)

sumber: www.padangkini.com

17 September 2008

Mengunjungi Rumah Tan Malaka

Oleh: Febrianti

MENCARI rumah kelahiran Tan Malaka di Nagari Pandan Gadang, Kabupaten Limapuluh Kota, sebenarnya cukup mudah. Ikuti saja Jalan Tan Malaka, salah satu jalan utama di Kota Payakumbuh arah ke luar kota.

Jalan raya ini terbentang sepanjang 48 kilometer dari Pusat Kota Payakumbuh hingga ke Koto Tinggi di Kabupaten Limapuluh Kota. Jalan dengan aspal mulus ini akan melewati rumah Tan Malaka di Pandan Gadang. Berhenti di Nagari Pandan Gadang, semua orang tahu di mana rumah Tan Malaka.

Nagari Pandan Gadang, seperti banyak pedesaan di Ranah Minang, perbukitan yang hijau permai. Terletak di lembah di kaki bukit dengan sawah yang berundak-undak serta puluhan pohon kelapa di pinggirnya, benar-benar hijau permai. Air yang mengalir juga jernih dan dingin.

Rumah Tan Malaka hanya sekitar 100 meter menuruni jalan setapak dari jalan raya itu. Ada rumah adat minang bergonjong dan tua. Di bagian depan teras tertulis “Tan Malaka”.

Rumah itu adalah rumah adat Tan Malaka yang dihuni turun-temurun oleh keluarganya dari pihak ibu, sesuai garis keturunan materilineal di Minangkabau.

Rumah ini terlatak di tepi sawah dan diapit puluhan pohon kelapa yang tinggi, terpencil dari rumah lainnya. Suasana begitu tenang. Di depan rumah terdapat 11 kolam ikan yang ditumbuhi teratai, namun berair jernih. Di depan rumah kelihatan bukit batu putih, ditumbuhi pinus dan perdu.

Rumah ini terletak di lembah yang subur. Suasana amat tenang, hanya suara air yang mengaliri sawah yang terdengar. Di rumah itu kini tinggal Indra Ibnur Ikatama, 38 tahun, bersama keluarganya, seorang istri bernama Erni Erlina, dengan empat anak yang paling besar 14 tahun dan paling kecil 2 tahun. Indra sehari-hari mengolah sawah, ladang, dan kolam di tanah warisan. Istrinya guru SD Negeri 01 Pandan Gadang, tak jauh dari rumah itu.

Indra adalah satu-satunya keturunan keluarga Tan Malaka dari garis ibu yang tinggal di kampung. Indra adalah cicit saudara perempuan dari ibu Tan Malaka. Ibu Tan Malaka bernama Sinah, hanya memiliki dua anak laki-laki, Ibrahim Datuk Tan Malaka (Tan Malaka) dan adiknya Kamaruddin.

Sinah hanya dua bersaudara dengan Janah, juga perempuan. Indra adalah cicit dari Janah. Beberapa cicit lainnya tinggal di daerah lain, umumnya di Jakarta.

“Sebagai laki-laki sebenarnya saya tidak berhak tinggal di rumah ini, membawa keluarga tinggal di sini, tapi karena tak ada lagi keluarga yang berada di kampung selain saya, saya dipaksa menghuni rumah ini, setelah ibu saya meninggal,” kata Indra.



Lahir di Surau

Rumah bagonjong milik keluarga Tan Malaka masih kokoh berdiri. Atapnya seng bergonjong 5 dengan banyak jendela berkaca patri. Beberapa kaca sudah pecah. Dindingnya kayu dan anyaman bambu. Lantainya juga kayu.

“Rumah ini dibangun sejak 1826, Tan Malaka dibesarkan sampai remaja di sini, yang pernah diganti hanya tonggak bagian bawah yang berhubungan dengan tanah karena lapuk dan atap, selebihnya masih asli dari kayu surian,” katanya.

Selain Nagari Pandan Gadang, rumah inilah satu-satunya warisan yang masih bisa dilihat berhubungan dengan Tan Malaka. Sebenarnya Tan Malaka tidak lahir di sana, pahlawan kemerdekaan Indonesia itu lahir pada 1897 di surau tak jauh dari rumah gadang itu. Waktu itu surau kecil tersebut juga dijadikan rumah tempat tinggal.

Surau yang tak jauh dari rumah gadang itu juga tempat ia lebih banyak menghabiskan waktu “diasah” sebagai lelaki minang. Namun surau itu tak ada lagi, tinggal tanah lokasi tempatnya berdiri, yang telah berubah menjadi sawah.

Saat naik ke rumah ini, menaiki undakan setinggi 1,5 meter, ada ruang tamu dan ruang keluarga di sebelah kiri tangga. Di ruang keluarga itu ada 4 ruangan yang dulunya untuk kamar. Ruangan itu disulap jadi kamar tanpa sekat papan, tetapi hanya diberi kelambu, termasuk bekas kamar Tan Malaka di kamar utama.

Hingga saat ini kamar tempat Tan Malaka itu masih diberi kelambu, ruangannya berukuran 3 x 6 meter. Diisi tempat tidur tua dari besi.

Tidak seperti Rumah Bung Hatta di Bukittinggi yang penuh dengan benda-benda kenangan masa kecilnya, di rumah Tan Malaka hanya ada satu lukisan pensil hitam putih Tan Malaka menyamping yang selama ini kita kenal, tergantung di dinding. Di bagian bawah lukisan itu tertulis “Tan Malaka Bapak Republik dan Murba”. Lukisan itu hanya reproduksi.



Lama Tanpa Buku

Buku-buku tulisan Tan Malaka atau buku lainnya yang berhubungan dengannya atau benda-benda lainnya yang pernah digunakan Tan Malaka sama sekali tak ada di rumah itu, hingga rumah tersebut diresmikan sebagai museum dan pustaka Tan Malaka 21 Februari lalu. Namun koleksinya masih sedikit.

Di rumah ini menurut Indra, kerap berkunjung peneliti, termasuk Harry A. Poeze yang sempat tinggal di sana beberapa bulan. Selain peneliti, beberapa turis umumnya bekas veteran dari Jakarta juga tampak berkunjung, dari buku tamu.

Dulu di zaman Soeharto sejarah Tan Malaka ditutup-tutupi karena ia dikaitkan oleh pemerintah berkuasa dengan PKI dan komunis. Tak hanya keluarga Tan Malaka, penduduk Pandan Gadang pun akhirnya memilih tertutup.

“Ketika salah seorang keluarga kami bernama Abdul Muis diberi gelar Datuk Tan Malaka (lanjutan dari gelar datuk Tan Malaka), banyak tamu yang datang, termasuk sejumlah pejabat juga dari Jakarta, tapi dalam acara itu mereka bertanya-tanya seakan mengatakan Tan Malaka itu PKI dan komunis, akhirnya Abdul Muis emosi, membalas dengan kata-kata yang keras, pejabat-pejabat tersebut tidak bagus pulangnya, sejak itu hubungan keluarga kami dengan pejabat pemerintah kurang bagus,” kata Indra.



Si Anti Mistik Punya Kisah Mistik

Bagi masyarakat Pandan Gadang sendiri Tan Malaka tak hanya sekadar tokoh nasional. Tetapi juga orang yang memiliki ilmu gaib pengirim pesan yang sering menghubungi keluarganya.

“Tan Malaka sering datang ke sini, tapi tidak menampakkan wujudnya karena ia punya ‘kepandaian’ (ilmu batin-red) atau tidak, itu juga kami tidak tahu,” kata Indra.

Dikisahkan Indra, pada zaman Jepang ketika Tan Malaka dalam pelarian mungkin di luar negeri, ibunya tiba-tiba mendengar suara Tan Malaka di dalam rumah. “Den ka poi lain May, pitih balanjo di bawah banta.” (Saya hendak pergi lagi Bu, uang belanja saya taruh di bawah bantal.” Hanya suara yang terdengar, barulah ibunya sadar anaknya sebenarnya tidak di rumah, tapi anehnya ada uang di bawah bantalnya.

Pada kakek Indra, Datuk Mangkuto juga pernah terjadi hal yang aneh, kisah Indra. Pada zaman Jepang Datuk Mangkuto membawa taksi gelap ke Padang. Ia kebetulan membawa penumpang seorang Jepang ke hotel. Saat penumpang itu hendak turun tiba-tiba ia berbahasa Pandan Gadang totok, “ Alah tu, poi la hang lai, ko pitih balanjo ang, ko pitih balanjo Amay,” (Sudahlah, pergilah kamu lagi, ini uang belanjamu dan belanja Ibu), sambil menyerahkan uang.

“Itu sering terjadi, setiap peristiwa aneh yang berhubungan dengan Tan Malaka pasti yang muncul suaranya dengan bahasa totok Pandan Gadang, dulu di surau dekat rumah, pernah dikepung Belanda seolah-olah ada mata-mata yang mengatakan di surau itu ada Tan Malaka, ternyata orang lain,” kata Indra.

Tan Malaka sering ke sini, tetapi tidak mau menampakkan wujud yang asli. Orang taunya, saat dia meninggalkan kata-kata, kepada ibunya atau anak kemenakannya.

Cerita mistik seperti ini tentu saja bertentangan dengan ajaran Tan Malaka yang tak percaya takhyul dan mengikisnya dari bangsa Indonesia.

“Terkait ada yang mengatakan kuburan Tan Malaka di Kediri, kami minta kuburannya dibongkar agar bisa dites DNA-nya, jika benar kami rela kuburan Tan Malaka tetap di sana untuk sejarah,” katanya. **

sumber: www.padangkini.com

Tan Malaka, Pemuda Misterius di Sebelah Bung Karno

Oleh: Febrianti/PadangKini.com

SEORANG pemuda yang mengenakan helm coklat, berjalan di sebelah Sukarno menuju Lapangan Ikada 19 September 1945. Keduanya berjalan bersama rombongan pemuda yang membawa bambu runcing untuk menggelar pertemuan di Lapangan Ikada. Peristiwa itu dikenal sebagai rapat akbar di Lapangan Ikada.

Rapat akbar karena desakan pemuda itu digelar sebagai demonstrasi untuk memperlihatkan kepada dunia bahwa Indonesia sudah merdeka. Karena proklamasi kemerdekaan sendiri sebulan sebelumnya dilakukan dengan sembunyi-sembunyi karena takut diserang Jepang.

Pemuda yang berjalan di sebelah Sukarno itu selama ini tak dikenal, hanya dianggap sebagai pemuda yang mengawal Sukarno. Ternyata pemuda itu adalah Tan Malaka.

Karena saat itu tidak banyak yang menyadari Tan Malaka telah kembali ke Indonesia setelah mengembara di berbagai negara selama 30 tahun.

Harry A.Poeze berhasil mengidentifikasi Tan Malaka yang berjalan di sebelah Sukarno.

"Ini Tan Malaka yang berjalan dengan Sukarno, karena Tan Malaka itu tingginya setelinga Sukarno, dan saya juga mendapatkan salah satu foto Tan Malaka yang mengenakan helm," kata Harry A Poeze sambil menunjuk foto lain Tan Malaka memakai helm coklat yang sedang tertawa.

Dalam foto menuju lapangan Ikada itu juga terlihat Tan Malaka berjalan di belakang Sukarno dan Hatta. Ini menjawab teka-teki selama ini, apakah Tan Malaka hadir dalam rapat itu.

"Ini juga bukti, Tan Malaka berperan besar dalam rapat itu yang meruncingkan perlawanan kepada Jepang," kata Harry.

Menurut Harry A Poeze dalam riwayat hidup Tan Malaka mungkin hanya ada 30 sampai 40 foto, karena gaya hidupnya yang selalu berpindah melintasi beberapa negara dengan banyak nama samaran untuk menghindar kejaran intel dan tentara kolonial.

Harry Poeze mendapatkan foto-foto dari surat kabar lama dan majalah lama, salah satunya foto Tan Malaka muda yang sedang berpose memegang buku dengan potongan rambut di dahi yang belah tengah. Foto itu dibuat saat Tan Malaka baru sampai di Belanda dan foto itu dikirimnya ke kampung halamannya.

Ada juga foto resmi Tan Malaka di sekolah Rijkskweekschool, Belanda dengan pakaian yang sangat necis dan mengenakan topi. Foto ini juga dikirim ke kampung halamannya.

Di Belanda Tan Malaka ikut kesebelasan sepakbola yang kuat, terlihat di foto Tan Malaka bersama teman-teman kesebelasannya. Ia amat mudah dikenali karena kulitnya yang lebih gelap. Selain itu Tan Malaka juga ikut orkestra dan memainkan biola. Dalam foto itu Tan Malaka berada di sudut kanan dan nyaris terpotong.

Ada juga foto Tan Malaka bersama perwakilan partai komunis di berbagai negara, saat ikut kongres partai komunis sedunia pada 1922 di Moskow. Setelah kongres itu, Tan Malaka dikirim partai komunis Rusia ke Asia Tenggara untuk mendirikan partai komunis untuk melawan penjajahan barat.

Setelah itu Tan Malaka selalu diburu polisi rahasia dari Hindia Belanda, Inggris, dan Amerika. Ia harus bersembunyi terus di Muangthai, Hongkong, Filipina, Cina, dengan banyak nama samaran.

Ada foto yang menunjukkan Tan Malaka ditahan polisi di Filipina pada 1927. Waktu itu Filipina dijajah Amerika. Tan Malaka terlihat dikawal polisi Filipina ke ruang pengadilan dan foto Tan Malaka sedang diadili. Foto ini didapat Harry Poeze dari surat kabar lama Filipina, karena itu kualitasnya buruk.

Belakangan Tan Malaka memutuskan hubungan dengan kegiatan komunis dan putus pula hubungan dengan Moskow, Tan Malaka lalu membentuk PARI, Partai Republik Indonesia. Namun karena masih pergi ke sana kemari, Tan Malaka tertangkap polisi Hongkong.

Polisi juga membuat sebuah foto resmi pada 1932 dengan wajah Tan Malaka dan sebuah cermin di sampingnya yang menampakkan raut wajah dari samping. (febrianti)

sumber: www.padangkini.com