Oleh: Febrianti/PadangKini.com
PADA pagi yang masih berkabut di Bukittinggi, kami bersiap berangkat mengunjungi rumah Tan Malaka di Pandan Gadang, Limapuluh Kota, sekitar 80 kilometer ke arah utara Bukittinggi.
Saya duduk di sebelah sejarawan Belanda Harry A. Poeze, seorang peneliti yang mencurahkan waktu selama 30 tahun untuk Tan Malaka. Teman seperjalanan lainnya adalah Zulhasril Nasir, guru besar Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia, Roger Tol, direktur KITLV Jakarta dan Eri Ray, seniman Padang yang kami tumpangi mobilnya.
Sementara di belakang, dengan bus pariwisata, ada 28 peserta lain yang akan mengunjungi rumah Tan Malaka, di antaranya sejarawan Mestika Zed, mahasiswa sejarah, mahasiswa seni, dan guru. Keluarga Tan Malaka memperingati 59 tahun kematian pejuang revolusioner itu tepat 21 Februari lalu.
Mobil dan bus mulai beriringan keluar dari halaman hotel tempat kami menginap. Tiba-tiba Harry Poeze berkata kepada Eri Ray.
"Bisakah kita sebentar ke sekolah Tan Malaka, saya ingin melihat lagi sekolah itu dan ambil beberapa gambar," katanya.
Mobil berbelok ke SMA Negeri 2 Bukittinggi, sementara bus terus melanjutkan perjalanan ke Pandan Gadang. Gedung sekolah Tan Malaka semasa di Kweek School masih kokoh berdiri, kini berubah menjadi SMA Negeri 2 Bukittinggi.
Dulunya sekolah ini juga dinamai Sekolah Raja, karena hanya anak-anak Belanda dan anak bangsawan pribumi atau anak orang kaya yang bisa bersekolah di tempat ini, salah satunya Tan Malaka.
Tan Malaka sekolah di Kweek School selama enam tahun dan lulus dengan nilai baik, karena dia anak terpintar dari semua teman sekolahnya. Ia lalu melanjutkan sekolahnya ke Belanda.
Harry A. Poeze turun dan memeriksa dinding ruang guru mencari-cari sesuatu.
"Saya mencari prasasti sekolah ini dan prasasti yang menerangkan tentang Nawawi Sutan Makmur yang pernah menjadi satu-satunya guru pribumi di tempat ini," kata Harry.
Prasasti yang dicari-cari akhirnya ketemu. Prasasti yang menempel di dinding yang menerangkan pendirian Kweek School tahun 1873-1908. Sementara itu satu prasasti lagi yang menerangkan tentang Engku Nawawai Sutan Makmur yang pernah menjadi guru di Kweek School tersembunyi di balik lemari.
Melihat itu, Zulhasril Nasir, penulis buku Tan Malaka dan Gerakan Kiri Minangkabau geleng-geleng kepala.
"Ini aset lho Pak Guru, kok malah ada di balik lemari, harusnya kita hargai, ini malah orang Belanda yang lebih menghargai bangsa kita," sindirnya kepada guru-guru yang ada di ruangan itu.
Asrama Tan Malaka Menjadi Asrama Polisi
Kepala SMA Negeri 2 Bukittinggi Muslim mengatakan kepada Harry Poeze, ia sendiri tidak tahu sejarah sekolahnya. Harry tersenyum mendengarnya. Budi Fitriza, guru sejarah sekolah itu malah bercerita, pernah memberi tugas kepada siswanya untuk menuliskan sejarah sekolah itu, dan siswanya membuat laporan berdasarkan bahan di internet.
"Beri alamat email Anda, nanti saya kirimkan foto-foto sekolah ini dan sejarahnya dari Belanda, sekolah ini pantas ditukar namanya menjadi Sekolah Tan Malaka," kata Harry.
Dari informasi Kepala Sekolah diketahui, asrama yang pernah ditempati Tan Malaka saat bersekolah dulu masih ada, tapi kini sudah menjadi asrama polisi di belakang sekolah.
"Saya senang, sekolah ini masih tetap berdiri, tidak hancur karena perang dan gempa bumi, padahal sudah satu abad, luar biasa," kata Harry saat kami keluar dari gerbang sekolah.
Kami meneruskan perjalanan ke Payakumbuh sambil memakan kerupuk sanjai, dakak-dakak, dan paniaram, makanan khas Payakumbuh. Harry Poeze mencicipi sepotong paniaram, kue yang terbuat dari tepung beras dan gula aren.
"Rasanya mirip salah satu kue di Belanda," kata pencinta masakan Indonesia ini.
Harry beruntung karena salah satu anak lelakinya punya istri orang Indonesia dan kini tinggal di Surabaya.
"Tiap ke sini saya diundang makan masakan tradisional Indonesia di rumah mereka," katanya.
Perjalanan mengunjungi kampung halaman Tan Malaka bagi Harry Poeze juga seperti menapaki jejaknya sendiri. Saat pertama kali berkunjung, pada 1976 ia datang bersama istrinyam Henny Poeze untuk memulai penelitiannya ke kampung Tan Malaka.
"Waktu itu saat sampai di Suliki, sekitar 10 km dari Pandan Gadang, kami bertemu dua serdadu dan melarang kami ke Pandan Gadang, serdadu itu mengatakan desa itu terlarang dimasuki, tetapi saya dan Henny berpura-pura menjadi turis biasa yang tidak tahu bahasa Indonesia, akhirnya kami berhasil ke Pandan Gadang," kenang Harry.
Di rumah Tan Malaka ia bertemu dengan keponakan Tan Malaka yang menempati rumah tua itu. Di kampung itu ia menggali masa kecil Tan Malaka dengan penduduk yang masih mengenal tokoh itu.
Jejak Tan Malaka di 2Benua
"Tan Malaka orang yang luar biasa dan petualangannya sangat menarik, saya harus melintasi 2 benua dan 11 negara untuk mencari jejak sejarahnya, jejaknya ada di mana-mana," kata Harry memberi alasan ketertarikannya kepada Tan Malaka.
Ia menghabiskan waktu selama 30 tahun untuk meneliti Tan Malaka. Termasuk 10 tahun untuk menulis buku Tan Malaka, Dihujat dan Dilupakan, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia 1945-1949 yang diluncurkan Juli tahun lalu dalam bahasa Belanda.
Sedangkan dalam bahasa Indonesia saat ini masih diterjemahkan dibagi dalam 6 jilid. Jilid pertama menurut Harry direncanakan akan terbit tahun ini.
Dari Payakumbuh, kami melewati Jalan Tan Malaka, salah satu jalan utama di Kota Payakumbuh arah ke luar kota. Jalan raya ini terbentang sepanjang 48 kilometer dari Pusat Kota Payakumbuh hingga ke Koto Tinggi di Kabupaten Limapuluh Kota. Jalan dengan aspal mulus ini akan melewati rumah Tan Malaka di Pandan Gadang.
Keluar dari Kota Payakumbuh, pemandangan pedalaman Ranah Minang yang asri mulai terhampar di depan mata. Roger Tol tak berhenti berdecak kagum. Pemandangan yang kami lewati memang amat menawan, lembah dengan sawah yang menghijau terbentang di kaki bukit, dipagari pohon-pohon kelapa. Di belakangnya berlapis-lapis bukit hijau dan biru menjadi latar yang indah ditambah dengan langit berawan putih di atasnya.
"Ini seperti sorga, kenapa Tan Malaka meninggalkan tempat seindah ini?" kata Roger Tol kepada Harry.
Harry tersenyum memandang ke luar jendela. "Dia kan harus pergi merantau," jawabnya.
Sampai di Pandan Gadang kami disambut keluarga besar Tan Malaka yang mengenakan pakaian adat. Henri, seorang keluarga keturunan Tan Malaka dari garis ibu kini mewarisi gelar Datuk Tan Malaka yang menambah panjang namanya menjadi Henri Datuk Tan Malaka. Ia mengenakan pakaian datuk kuning terang.
Rumah Tan Malaka hanya sekitar 100 meter menuruni jalan setapak dari jalan raya. Ada rumah adat minang bergonjong dan tua. Di bagian depan teras tertulis ‘Tan Malaka'. Rumah itu adalah rumah adat Tan Malaka yang dihuni turun-temurun oleh keluarganya dari pihak ibu, sesuai garis keturunan materilineal di Minangkabau.
Rumah ini terletak di lembah yang subur. Suasana amat tenang, hanya suara air yang mengaliri sawah yang terdengar. Di tepi sawah dan diapit puluhan pohon kelapa yang tinggi, terpencil dari rumah lainnya. Di depan rumah terdapat 11 kolam ikan yang ditumbuhi teratai, dan berair jernih. Di depan rumah menjulang bukit yang hijau ditumbuhi pohon dan perdu.
Acara Tanpa Bantuan Pemerintah
Untuk memperingati kematian Tan Malaka, keluarga besarnya menggelar tahlilan selama satu jam. Keluarga besar Tan Malaka, KITLV dan Pusbitdem (Pusat Studi Penerbit dan Pustaka Demokrasi) menggelar acara ini tanpa bantuan pemerintah. Sehari sebelumnya, mereka juga menggelar seminar di Bukittinggi tentang Tan Malaka.
"Kita mencoba menanam benih, mudah-mudahan ini tumbuh besar," kata Asmun A. Sjueib, ketua panitia.
Diawali dengan pantun petatah petitih Minangkabau dan irama talempong, museum sederhana itu diresmikan oleh Direktur Nilai Sejarah Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Magdalia Alfian.
Enam bulan lalu rumah ini masih dihuni Indra Ibnur Ikatama dan keluarganya. Indra adalah satu-satunya keturunan keluarga Tan Malaka dari garis ibu yang tinggal di kampung. Indra adalah cicit saudara perempuan dari ibu Tan Malaka.
Ibu Tan Malaka bernama Sinah, hanya memiliki dua anak laki-laki, Ibrahim Datuk Tan Malaka (Tan Malaka) dan adiknya Kamaruddin. Sinah hanya dua bersaudara dengan Janah, juga perempuan. Indra adalah cicit dari Janah.
Rumah bagonjong milik keluarga Tan Malaka masih kokoh berdiri. Atapnya seng bergonjong 5 dengan banyak jendela berkaca patri. Beberapa kaca sudah pecah. Dindingnya kayu dan anyaman bambu. Lantainya juga kayu.
"Rumah ini dibangun sejak 1826, namun Tan Malaka lahir di rumah surau yang kini sudah menjadi sawah, saat dia diangkat menjadi datuk, baru dibawa ke rumah ini," kata Ani Zarni salah seorang keluarga Tan Malaka.
Harry Poeze disambut bak teman lama keluarga. Semua keluarga Tan Malaka sudah mengenalnya. Ia menyerahkan bukunya yang beratnya 5 kilogram itu untuk koleksi pustaka.
"Pak Harry sering ke rumah saya di Jakarta, dan tiap kali makan masakan Minang selalu minta catatkan resepnya,resep rendang, resep pangek ikan, pokoknya apa saja yang baru saya disuruh catat," kata Anna Yuliar, adik Ani Zarni.
Saat naik ke rumah ini, menaiki undakan setinggi 1,5 meter, ruang tamu dan ruang keluarga terlihat sudah menyatu tanpa sekat. Di dalamnya kini ada lemari kaca yang menyimpan buku-buku Tan Malaka dan buku-buku yang membahas Tan Malaka. Koleksi lainnya adalah baju Tan Malaka saat menjadi datuk, piringan hitam dan pemutarnya, tempat tidur dan foto-foto Tan Malaka.
Menurut Ani Zarni, pada masa pemberontakan PRRI, rumah gadang ini pernah menjadi dapur umum untuk pejuang PRRI.
"Saya masih ingat saat itu berumur 10 tahun, kami lari ke bukit dan saya dipaksa menembakkan senapan dari atas bukit," kata Ani Zarni.
Buku-bukunya Dibakar
Dimasa itulah buku-buku dan barang pribadi Tan Malaka terpaksa banyak yang dibakar, untuk menghilangkan jejak agar tidak disangka pemberontak.
Untuk memastikan kematian Tan Malaka, keluarga Tan Malaka sudah sepenuhnya menyerahkannya kepada Harry Poeze untuk mengurusnya.
"Tahun lalu saya sudah tanyakan tentang kemungkinan pembongkaran kuburan yang kita duga kuburan Tan Malaka, dan pihak keluarga sudah setuju, Menteri membentuk tim, tapi sampai kini masih belum ada penyelesaian," kata Harry.
Sejarawan Mestika Zed yang ikut dalam rombongan, mengaku terkesan melihat rumah Tan Malaka karena ini kedatangannya yang pertama.
"Saya termasuk orang yang kelam jalan ke sini, dan tempat ini sangat indah, sebuah lembah yang punya ruangan yang sangat sehat dan lingkungan yang jarang didapat, saya terkesan dengan lingkungan ini, tapi juga punya korelasi dengan si tokoh dalam arti memberikan inspirasi untuk seorang tokoh, saya kira lingkungan seperti ini akan melahirkan generasi yang sehat karena lingkungannya enak," katanya.
Lewat tengah hari kami pulang. Harry mengaku senang sekali karena rumah Tan Malaka kini sudah dijadikan museum.
"Berarti ada kemajuan dan lebih mudah mengumpulkan barang-barang yang berhubungan dengan Tan Malaka," katanya.
Dalam perjalanan pulang beberapa kali ia minta berhenti dan memotret kampung halaman Tan Malaka yang indah itu. (febrianti)
sumber: www.padangkini.com
19 September 2008
18 September 2008
Perempuan dalam Kehidupan Tan Malaka

Oleh: Febrianti/PadangKini.com
PERNAHKAH Tan Malaka mencintai perempuan? Pertanyaan seperti ini banyak menggoda setiap orang. Selama ini Tan Malaka lebih dikenal sebagi pejuang yang revolusioner yang tidak pernah terlihat dekat dengan perempuan. Jarang sekali kehidupan pribadinya dibicarakan, apalagi yang berkaitan dengan perempuan.
"Ada beberapa perempuan yang singgah di hatinya," kata Harry A. Poeze, peneliti Tan Malaka.
Perempuan pertama, kata Harry, adalah Syaripah Nawawai, teman sekolah Tan Malaka semasa di Kweek School di Bukittinggi. Syaripah adalah anak Nawawi Sutan Makmur, guru bahasa Melayu dan satu-satunya guru pribumi di sekolah itu. Syaripah juga satu-satunya perempuan pribumi yang bersekolah di tempat itu.
"Tan Malaka jatuh cinta kepada Syaripah, kemungkinan karena ini Tan Malaka menolak bertunangan dengan gadis di kampungnya, Pandan Gadang, saat ia akan berangkat ke Belanda," kata Harry.
Pada waktu Tan Malaka pergi ke Belanda. Maka dia kirim surat pada Syaripah dan bilang ia mencintai Syaripah dan berharap Syaripah mau menunggunya. Namun surat-surat itu tidak dibalas. Tan Malaka bertepuk sebelah tangan, ternyata Syaripah tidak mencintainya.
"Saya pernah bertemu Syaripah pada 1980-an, sebelum beliau meninggal, Syaripah yang menceritakan isi surat Tan Malaka itu kepada saya, saya menanyakan kenapa Syaripah tidak mencintai Tan Malaka, Syaripah mengatakan bahwa Tan Malaka orang yang aneh," ujarnya.
Karena Syaripah tidak pernah membalas suratnya, Tan Malaka berhenti menulis surat kepadanya. Syaripah akhirnya menikah dengan seorang regent atau bupati di Bandung yang sudah memiliki dua orang selir.
"Ini sejarah yang sedikit tragis dan lucu," ujar Harry.
Di Belanda, saat bersekolah, Tan Malaka juga pernah punya pacar, namanya Fenny Struyuenberg, seorang mahasiswa kedokteran. "Namun saya tidak sempat menemui Fenny, karena Fenny mati muda," kata Harry.
Di dalam satu surat kabar lama di Rusia juga pernah disebutkan Tan Malaka memiliki kekasih gadis Rusia, tetapi tidak disebutkan namanya, apalagi fotonya.
Setelah 20 tahun mengembara, pulang ke Indonesia pada 1945, Tan Malaka bertemu dengan Paramita Abdul Rahman. Paramita adalah keponakan Subarjo Djoyohadisuryo, Menteri Luar Negeri saat itu. Paramita adalah ketua Palang Merah Indonesia ketika itu.
Paramita dianggap tunangan Tan Malaka, namun ‘pertunangan' ini akhirnya kandas.
Kepada Harry Poeze Paramita mengatakan Tan Malaka seorang yang mengidolakan perempuan seperti R A Kartini dan dalam tingkah laku harus ada simbol perempuan Indonesia.
"Bagi Paramita yang cinta sekali dengan Tan Malaka ini peristiwa yang sangat sulit dan sukar dibicarakan, hingga tua bahkan Paramita tidak menikah," kata Harry.
"Kata SK Trimurti kepada saya, dalam bidang perempuan Tan Malaka adalah orang yang sangat bersih, dia amat menghormati perempuan, ini berbeda sekali dengan Soekarno," kata Harry.
Namun dalam surat yang ditulis Tan Malaka, Tan Malaka bilang, dalam hidupnya hanya ada satu tujuan, memerdekakan Indonesia dari Belanda.
"Saya kira Tan Malaka seperti beberapa orang revolusioner lainnya di dunia, yang hanya punya satu tujuan dalam hidupnya, tidak untuk perempuan, dalam kesimpulan ini, Tan Malaka tidak punya waktu untuk perempuan, tujuannya hanya revolusi, mungkin sesudah revolusi baru ada tempat untuk perempuan, tetapi ia meninggal sebelum revolusi selesai." (Febrianti)
sumber: www.padangkini.com
17 September 2008
Mengunjungi Rumah Tan Malaka
Oleh: Febrianti
MENCARI rumah kelahiran Tan Malaka di Nagari Pandan Gadang, Kabupaten Limapuluh Kota, sebenarnya cukup mudah. Ikuti saja Jalan Tan Malaka, salah satu jalan utama di Kota Payakumbuh arah ke luar kota.
Jalan raya ini terbentang sepanjang 48 kilometer dari Pusat Kota Payakumbuh hingga ke Koto Tinggi di Kabupaten Limapuluh Kota. Jalan dengan aspal mulus ini akan melewati rumah Tan Malaka di Pandan Gadang. Berhenti di Nagari Pandan Gadang, semua orang tahu di mana rumah Tan Malaka.
Nagari Pandan Gadang, seperti banyak pedesaan di Ranah Minang, perbukitan yang hijau permai. Terletak di lembah di kaki bukit dengan sawah yang berundak-undak serta puluhan pohon kelapa di pinggirnya, benar-benar hijau permai. Air yang mengalir juga jernih dan dingin.
Rumah Tan Malaka hanya sekitar 100 meter menuruni jalan setapak dari jalan raya itu. Ada rumah adat minang bergonjong dan tua. Di bagian depan teras tertulis “Tan Malaka”.
Rumah itu adalah rumah adat Tan Malaka yang dihuni turun-temurun oleh keluarganya dari pihak ibu, sesuai garis keturunan materilineal di Minangkabau.
Rumah ini terlatak di tepi sawah dan diapit puluhan pohon kelapa yang tinggi, terpencil dari rumah lainnya. Suasana begitu tenang. Di depan rumah terdapat 11 kolam ikan yang ditumbuhi teratai, namun berair jernih. Di depan rumah kelihatan bukit batu putih, ditumbuhi pinus dan perdu.
Rumah ini terletak di lembah yang subur. Suasana amat tenang, hanya suara air yang mengaliri sawah yang terdengar. Di rumah itu kini tinggal Indra Ibnur Ikatama, 38 tahun, bersama keluarganya, seorang istri bernama Erni Erlina, dengan empat anak yang paling besar 14 tahun dan paling kecil 2 tahun. Indra sehari-hari mengolah sawah, ladang, dan kolam di tanah warisan. Istrinya guru SD Negeri 01 Pandan Gadang, tak jauh dari rumah itu.
Indra adalah satu-satunya keturunan keluarga Tan Malaka dari garis ibu yang tinggal di kampung. Indra adalah cicit saudara perempuan dari ibu Tan Malaka. Ibu Tan Malaka bernama Sinah, hanya memiliki dua anak laki-laki, Ibrahim Datuk Tan Malaka (Tan Malaka) dan adiknya Kamaruddin.
Sinah hanya dua bersaudara dengan Janah, juga perempuan. Indra adalah cicit dari Janah. Beberapa cicit lainnya tinggal di daerah lain, umumnya di Jakarta.
“Sebagai laki-laki sebenarnya saya tidak berhak tinggal di rumah ini, membawa keluarga tinggal di sini, tapi karena tak ada lagi keluarga yang berada di kampung selain saya, saya dipaksa menghuni rumah ini, setelah ibu saya meninggal,” kata Indra.
Lahir di Surau
Rumah bagonjong milik keluarga Tan Malaka masih kokoh berdiri. Atapnya seng bergonjong 5 dengan banyak jendela berkaca patri. Beberapa kaca sudah pecah. Dindingnya kayu dan anyaman bambu. Lantainya juga kayu.
“Rumah ini dibangun sejak 1826, Tan Malaka dibesarkan sampai remaja di sini, yang pernah diganti hanya tonggak bagian bawah yang berhubungan dengan tanah karena lapuk dan atap, selebihnya masih asli dari kayu surian,” katanya.
Selain Nagari Pandan Gadang, rumah inilah satu-satunya warisan yang masih bisa dilihat berhubungan dengan Tan Malaka. Sebenarnya Tan Malaka tidak lahir di sana, pahlawan kemerdekaan Indonesia itu lahir pada 1897 di surau tak jauh dari rumah gadang itu. Waktu itu surau kecil tersebut juga dijadikan rumah tempat tinggal.
Surau yang tak jauh dari rumah gadang itu juga tempat ia lebih banyak menghabiskan waktu “diasah” sebagai lelaki minang. Namun surau itu tak ada lagi, tinggal tanah lokasi tempatnya berdiri, yang telah berubah menjadi sawah.
Saat naik ke rumah ini, menaiki undakan setinggi 1,5 meter, ada ruang tamu dan ruang keluarga di sebelah kiri tangga. Di ruang keluarga itu ada 4 ruangan yang dulunya untuk kamar. Ruangan itu disulap jadi kamar tanpa sekat papan, tetapi hanya diberi kelambu, termasuk bekas kamar Tan Malaka di kamar utama.
Hingga saat ini kamar tempat Tan Malaka itu masih diberi kelambu, ruangannya berukuran 3 x 6 meter. Diisi tempat tidur tua dari besi.
Tidak seperti Rumah Bung Hatta di Bukittinggi yang penuh dengan benda-benda kenangan masa kecilnya, di rumah Tan Malaka hanya ada satu lukisan pensil hitam putih Tan Malaka menyamping yang selama ini kita kenal, tergantung di dinding. Di bagian bawah lukisan itu tertulis “Tan Malaka Bapak Republik dan Murba”. Lukisan itu hanya reproduksi.
Lama Tanpa Buku
Buku-buku tulisan Tan Malaka atau buku lainnya yang berhubungan dengannya atau benda-benda lainnya yang pernah digunakan Tan Malaka sama sekali tak ada di rumah itu, hingga rumah tersebut diresmikan sebagai museum dan pustaka Tan Malaka 21 Februari lalu. Namun koleksinya masih sedikit.
Di rumah ini menurut Indra, kerap berkunjung peneliti, termasuk Harry A. Poeze yang sempat tinggal di sana beberapa bulan. Selain peneliti, beberapa turis umumnya bekas veteran dari Jakarta juga tampak berkunjung, dari buku tamu.
Dulu di zaman Soeharto sejarah Tan Malaka ditutup-tutupi karena ia dikaitkan oleh pemerintah berkuasa dengan PKI dan komunis. Tak hanya keluarga Tan Malaka, penduduk Pandan Gadang pun akhirnya memilih tertutup.
“Ketika salah seorang keluarga kami bernama Abdul Muis diberi gelar Datuk Tan Malaka (lanjutan dari gelar datuk Tan Malaka), banyak tamu yang datang, termasuk sejumlah pejabat juga dari Jakarta, tapi dalam acara itu mereka bertanya-tanya seakan mengatakan Tan Malaka itu PKI dan komunis, akhirnya Abdul Muis emosi, membalas dengan kata-kata yang keras, pejabat-pejabat tersebut tidak bagus pulangnya, sejak itu hubungan keluarga kami dengan pejabat pemerintah kurang bagus,” kata Indra.
Si Anti Mistik Punya Kisah Mistik
Bagi masyarakat Pandan Gadang sendiri Tan Malaka tak hanya sekadar tokoh nasional. Tetapi juga orang yang memiliki ilmu gaib pengirim pesan yang sering menghubungi keluarganya.
“Tan Malaka sering datang ke sini, tapi tidak menampakkan wujudnya karena ia punya ‘kepandaian’ (ilmu batin-red) atau tidak, itu juga kami tidak tahu,” kata Indra.
Dikisahkan Indra, pada zaman Jepang ketika Tan Malaka dalam pelarian mungkin di luar negeri, ibunya tiba-tiba mendengar suara Tan Malaka di dalam rumah. “Den ka poi lain May, pitih balanjo di bawah banta.” (Saya hendak pergi lagi Bu, uang belanja saya taruh di bawah bantal.” Hanya suara yang terdengar, barulah ibunya sadar anaknya sebenarnya tidak di rumah, tapi anehnya ada uang di bawah bantalnya.
Pada kakek Indra, Datuk Mangkuto juga pernah terjadi hal yang aneh, kisah Indra. Pada zaman Jepang Datuk Mangkuto membawa taksi gelap ke Padang. Ia kebetulan membawa penumpang seorang Jepang ke hotel. Saat penumpang itu hendak turun tiba-tiba ia berbahasa Pandan Gadang totok, “ Alah tu, poi la hang lai, ko pitih balanjo ang, ko pitih balanjo Amay,” (Sudahlah, pergilah kamu lagi, ini uang belanjamu dan belanja Ibu), sambil menyerahkan uang.
“Itu sering terjadi, setiap peristiwa aneh yang berhubungan dengan Tan Malaka pasti yang muncul suaranya dengan bahasa totok Pandan Gadang, dulu di surau dekat rumah, pernah dikepung Belanda seolah-olah ada mata-mata yang mengatakan di surau itu ada Tan Malaka, ternyata orang lain,” kata Indra.
Tan Malaka sering ke sini, tetapi tidak mau menampakkan wujud yang asli. Orang taunya, saat dia meninggalkan kata-kata, kepada ibunya atau anak kemenakannya.
Cerita mistik seperti ini tentu saja bertentangan dengan ajaran Tan Malaka yang tak percaya takhyul dan mengikisnya dari bangsa Indonesia.
“Terkait ada yang mengatakan kuburan Tan Malaka di Kediri, kami minta kuburannya dibongkar agar bisa dites DNA-nya, jika benar kami rela kuburan Tan Malaka tetap di sana untuk sejarah,” katanya. **
sumber: www.padangkini.com
MENCARI rumah kelahiran Tan Malaka di Nagari Pandan Gadang, Kabupaten Limapuluh Kota, sebenarnya cukup mudah. Ikuti saja Jalan Tan Malaka, salah satu jalan utama di Kota Payakumbuh arah ke luar kota.
Jalan raya ini terbentang sepanjang 48 kilometer dari Pusat Kota Payakumbuh hingga ke Koto Tinggi di Kabupaten Limapuluh Kota. Jalan dengan aspal mulus ini akan melewati rumah Tan Malaka di Pandan Gadang. Berhenti di Nagari Pandan Gadang, semua orang tahu di mana rumah Tan Malaka.
Nagari Pandan Gadang, seperti banyak pedesaan di Ranah Minang, perbukitan yang hijau permai. Terletak di lembah di kaki bukit dengan sawah yang berundak-undak serta puluhan pohon kelapa di pinggirnya, benar-benar hijau permai. Air yang mengalir juga jernih dan dingin.
Rumah Tan Malaka hanya sekitar 100 meter menuruni jalan setapak dari jalan raya itu. Ada rumah adat minang bergonjong dan tua. Di bagian depan teras tertulis “Tan Malaka”.
Rumah itu adalah rumah adat Tan Malaka yang dihuni turun-temurun oleh keluarganya dari pihak ibu, sesuai garis keturunan materilineal di Minangkabau.
Rumah ini terlatak di tepi sawah dan diapit puluhan pohon kelapa yang tinggi, terpencil dari rumah lainnya. Suasana begitu tenang. Di depan rumah terdapat 11 kolam ikan yang ditumbuhi teratai, namun berair jernih. Di depan rumah kelihatan bukit batu putih, ditumbuhi pinus dan perdu.
Rumah ini terletak di lembah yang subur. Suasana amat tenang, hanya suara air yang mengaliri sawah yang terdengar. Di rumah itu kini tinggal Indra Ibnur Ikatama, 38 tahun, bersama keluarganya, seorang istri bernama Erni Erlina, dengan empat anak yang paling besar 14 tahun dan paling kecil 2 tahun. Indra sehari-hari mengolah sawah, ladang, dan kolam di tanah warisan. Istrinya guru SD Negeri 01 Pandan Gadang, tak jauh dari rumah itu.
Indra adalah satu-satunya keturunan keluarga Tan Malaka dari garis ibu yang tinggal di kampung. Indra adalah cicit saudara perempuan dari ibu Tan Malaka. Ibu Tan Malaka bernama Sinah, hanya memiliki dua anak laki-laki, Ibrahim Datuk Tan Malaka (Tan Malaka) dan adiknya Kamaruddin.
Sinah hanya dua bersaudara dengan Janah, juga perempuan. Indra adalah cicit dari Janah. Beberapa cicit lainnya tinggal di daerah lain, umumnya di Jakarta.
“Sebagai laki-laki sebenarnya saya tidak berhak tinggal di rumah ini, membawa keluarga tinggal di sini, tapi karena tak ada lagi keluarga yang berada di kampung selain saya, saya dipaksa menghuni rumah ini, setelah ibu saya meninggal,” kata Indra.
Lahir di Surau
Rumah bagonjong milik keluarga Tan Malaka masih kokoh berdiri. Atapnya seng bergonjong 5 dengan banyak jendela berkaca patri. Beberapa kaca sudah pecah. Dindingnya kayu dan anyaman bambu. Lantainya juga kayu.
“Rumah ini dibangun sejak 1826, Tan Malaka dibesarkan sampai remaja di sini, yang pernah diganti hanya tonggak bagian bawah yang berhubungan dengan tanah karena lapuk dan atap, selebihnya masih asli dari kayu surian,” katanya.
Selain Nagari Pandan Gadang, rumah inilah satu-satunya warisan yang masih bisa dilihat berhubungan dengan Tan Malaka. Sebenarnya Tan Malaka tidak lahir di sana, pahlawan kemerdekaan Indonesia itu lahir pada 1897 di surau tak jauh dari rumah gadang itu. Waktu itu surau kecil tersebut juga dijadikan rumah tempat tinggal.
Surau yang tak jauh dari rumah gadang itu juga tempat ia lebih banyak menghabiskan waktu “diasah” sebagai lelaki minang. Namun surau itu tak ada lagi, tinggal tanah lokasi tempatnya berdiri, yang telah berubah menjadi sawah.
Saat naik ke rumah ini, menaiki undakan setinggi 1,5 meter, ada ruang tamu dan ruang keluarga di sebelah kiri tangga. Di ruang keluarga itu ada 4 ruangan yang dulunya untuk kamar. Ruangan itu disulap jadi kamar tanpa sekat papan, tetapi hanya diberi kelambu, termasuk bekas kamar Tan Malaka di kamar utama.
Hingga saat ini kamar tempat Tan Malaka itu masih diberi kelambu, ruangannya berukuran 3 x 6 meter. Diisi tempat tidur tua dari besi.
Tidak seperti Rumah Bung Hatta di Bukittinggi yang penuh dengan benda-benda kenangan masa kecilnya, di rumah Tan Malaka hanya ada satu lukisan pensil hitam putih Tan Malaka menyamping yang selama ini kita kenal, tergantung di dinding. Di bagian bawah lukisan itu tertulis “Tan Malaka Bapak Republik dan Murba”. Lukisan itu hanya reproduksi.
Lama Tanpa Buku
Buku-buku tulisan Tan Malaka atau buku lainnya yang berhubungan dengannya atau benda-benda lainnya yang pernah digunakan Tan Malaka sama sekali tak ada di rumah itu, hingga rumah tersebut diresmikan sebagai museum dan pustaka Tan Malaka 21 Februari lalu. Namun koleksinya masih sedikit.
Di rumah ini menurut Indra, kerap berkunjung peneliti, termasuk Harry A. Poeze yang sempat tinggal di sana beberapa bulan. Selain peneliti, beberapa turis umumnya bekas veteran dari Jakarta juga tampak berkunjung, dari buku tamu.
Dulu di zaman Soeharto sejarah Tan Malaka ditutup-tutupi karena ia dikaitkan oleh pemerintah berkuasa dengan PKI dan komunis. Tak hanya keluarga Tan Malaka, penduduk Pandan Gadang pun akhirnya memilih tertutup.
“Ketika salah seorang keluarga kami bernama Abdul Muis diberi gelar Datuk Tan Malaka (lanjutan dari gelar datuk Tan Malaka), banyak tamu yang datang, termasuk sejumlah pejabat juga dari Jakarta, tapi dalam acara itu mereka bertanya-tanya seakan mengatakan Tan Malaka itu PKI dan komunis, akhirnya Abdul Muis emosi, membalas dengan kata-kata yang keras, pejabat-pejabat tersebut tidak bagus pulangnya, sejak itu hubungan keluarga kami dengan pejabat pemerintah kurang bagus,” kata Indra.
Si Anti Mistik Punya Kisah Mistik
Bagi masyarakat Pandan Gadang sendiri Tan Malaka tak hanya sekadar tokoh nasional. Tetapi juga orang yang memiliki ilmu gaib pengirim pesan yang sering menghubungi keluarganya.
“Tan Malaka sering datang ke sini, tapi tidak menampakkan wujudnya karena ia punya ‘kepandaian’ (ilmu batin-red) atau tidak, itu juga kami tidak tahu,” kata Indra.
Dikisahkan Indra, pada zaman Jepang ketika Tan Malaka dalam pelarian mungkin di luar negeri, ibunya tiba-tiba mendengar suara Tan Malaka di dalam rumah. “Den ka poi lain May, pitih balanjo di bawah banta.” (Saya hendak pergi lagi Bu, uang belanja saya taruh di bawah bantal.” Hanya suara yang terdengar, barulah ibunya sadar anaknya sebenarnya tidak di rumah, tapi anehnya ada uang di bawah bantalnya.
Pada kakek Indra, Datuk Mangkuto juga pernah terjadi hal yang aneh, kisah Indra. Pada zaman Jepang Datuk Mangkuto membawa taksi gelap ke Padang. Ia kebetulan membawa penumpang seorang Jepang ke hotel. Saat penumpang itu hendak turun tiba-tiba ia berbahasa Pandan Gadang totok, “ Alah tu, poi la hang lai, ko pitih balanjo ang, ko pitih balanjo Amay,” (Sudahlah, pergilah kamu lagi, ini uang belanjamu dan belanja Ibu), sambil menyerahkan uang.
“Itu sering terjadi, setiap peristiwa aneh yang berhubungan dengan Tan Malaka pasti yang muncul suaranya dengan bahasa totok Pandan Gadang, dulu di surau dekat rumah, pernah dikepung Belanda seolah-olah ada mata-mata yang mengatakan di surau itu ada Tan Malaka, ternyata orang lain,” kata Indra.
Tan Malaka sering ke sini, tetapi tidak mau menampakkan wujud yang asli. Orang taunya, saat dia meninggalkan kata-kata, kepada ibunya atau anak kemenakannya.
Cerita mistik seperti ini tentu saja bertentangan dengan ajaran Tan Malaka yang tak percaya takhyul dan mengikisnya dari bangsa Indonesia.
“Terkait ada yang mengatakan kuburan Tan Malaka di Kediri, kami minta kuburannya dibongkar agar bisa dites DNA-nya, jika benar kami rela kuburan Tan Malaka tetap di sana untuk sejarah,” katanya. **
sumber: www.padangkini.com
Tan Malaka, Pemuda Misterius di Sebelah Bung Karno
Oleh: Febrianti/PadangKini.com
SEORANG pemuda yang mengenakan helm coklat, berjalan di sebelah Sukarno menuju Lapangan Ikada 19 September 1945. Keduanya berjalan bersama rombongan pemuda yang membawa bambu runcing untuk menggelar pertemuan di Lapangan Ikada. Peristiwa itu dikenal sebagai rapat akbar di Lapangan Ikada.
Rapat akbar karena desakan pemuda itu digelar sebagai demonstrasi untuk memperlihatkan kepada dunia bahwa Indonesia sudah merdeka. Karena proklamasi kemerdekaan sendiri sebulan sebelumnya dilakukan dengan sembunyi-sembunyi karena takut diserang Jepang.
Pemuda yang berjalan di sebelah Sukarno itu selama ini tak dikenal, hanya dianggap sebagai pemuda yang mengawal Sukarno. Ternyata pemuda itu adalah Tan Malaka.
Karena saat itu tidak banyak yang menyadari Tan Malaka telah kembali ke Indonesia setelah mengembara di berbagai negara selama 30 tahun.
Harry A.Poeze berhasil mengidentifikasi Tan Malaka yang berjalan di sebelah Sukarno.
"Ini Tan Malaka yang berjalan dengan Sukarno, karena Tan Malaka itu tingginya setelinga Sukarno, dan saya juga mendapatkan salah satu foto Tan Malaka yang mengenakan helm," kata Harry A Poeze sambil menunjuk foto lain Tan Malaka memakai helm coklat yang sedang tertawa.
Dalam foto menuju lapangan Ikada itu juga terlihat Tan Malaka berjalan di belakang Sukarno dan Hatta. Ini menjawab teka-teki selama ini, apakah Tan Malaka hadir dalam rapat itu.
"Ini juga bukti, Tan Malaka berperan besar dalam rapat itu yang meruncingkan perlawanan kepada Jepang," kata Harry.
Menurut Harry A Poeze dalam riwayat hidup Tan Malaka mungkin hanya ada 30 sampai 40 foto, karena gaya hidupnya yang selalu berpindah melintasi beberapa negara dengan banyak nama samaran untuk menghindar kejaran intel dan tentara kolonial.
Harry Poeze mendapatkan foto-foto dari surat kabar lama dan majalah lama, salah satunya foto Tan Malaka muda yang sedang berpose memegang buku dengan potongan rambut di dahi yang belah tengah. Foto itu dibuat saat Tan Malaka baru sampai di Belanda dan foto itu dikirimnya ke kampung halamannya.
Ada juga foto resmi Tan Malaka di sekolah Rijkskweekschool, Belanda dengan pakaian yang sangat necis dan mengenakan topi. Foto ini juga dikirim ke kampung halamannya.
Di Belanda Tan Malaka ikut kesebelasan sepakbola yang kuat, terlihat di foto Tan Malaka bersama teman-teman kesebelasannya. Ia amat mudah dikenali karena kulitnya yang lebih gelap. Selain itu Tan Malaka juga ikut orkestra dan memainkan biola. Dalam foto itu Tan Malaka berada di sudut kanan dan nyaris terpotong.
Ada juga foto Tan Malaka bersama perwakilan partai komunis di berbagai negara, saat ikut kongres partai komunis sedunia pada 1922 di Moskow. Setelah kongres itu, Tan Malaka dikirim partai komunis Rusia ke Asia Tenggara untuk mendirikan partai komunis untuk melawan penjajahan barat.
Setelah itu Tan Malaka selalu diburu polisi rahasia dari Hindia Belanda, Inggris, dan Amerika. Ia harus bersembunyi terus di Muangthai, Hongkong, Filipina, Cina, dengan banyak nama samaran.
Ada foto yang menunjukkan Tan Malaka ditahan polisi di Filipina pada 1927. Waktu itu Filipina dijajah Amerika. Tan Malaka terlihat dikawal polisi Filipina ke ruang pengadilan dan foto Tan Malaka sedang diadili. Foto ini didapat Harry Poeze dari surat kabar lama Filipina, karena itu kualitasnya buruk.
Belakangan Tan Malaka memutuskan hubungan dengan kegiatan komunis dan putus pula hubungan dengan Moskow, Tan Malaka lalu membentuk PARI, Partai Republik Indonesia. Namun karena masih pergi ke sana kemari, Tan Malaka tertangkap polisi Hongkong.
Polisi juga membuat sebuah foto resmi pada 1932 dengan wajah Tan Malaka dan sebuah cermin di sampingnya yang menampakkan raut wajah dari samping. (febrianti)
sumber: www.padangkini.com
SEORANG pemuda yang mengenakan helm coklat, berjalan di sebelah Sukarno menuju Lapangan Ikada 19 September 1945. Keduanya berjalan bersama rombongan pemuda yang membawa bambu runcing untuk menggelar pertemuan di Lapangan Ikada. Peristiwa itu dikenal sebagai rapat akbar di Lapangan Ikada.
Rapat akbar karena desakan pemuda itu digelar sebagai demonstrasi untuk memperlihatkan kepada dunia bahwa Indonesia sudah merdeka. Karena proklamasi kemerdekaan sendiri sebulan sebelumnya dilakukan dengan sembunyi-sembunyi karena takut diserang Jepang.
Pemuda yang berjalan di sebelah Sukarno itu selama ini tak dikenal, hanya dianggap sebagai pemuda yang mengawal Sukarno. Ternyata pemuda itu adalah Tan Malaka.
Karena saat itu tidak banyak yang menyadari Tan Malaka telah kembali ke Indonesia setelah mengembara di berbagai negara selama 30 tahun.
Harry A.Poeze berhasil mengidentifikasi Tan Malaka yang berjalan di sebelah Sukarno.
"Ini Tan Malaka yang berjalan dengan Sukarno, karena Tan Malaka itu tingginya setelinga Sukarno, dan saya juga mendapatkan salah satu foto Tan Malaka yang mengenakan helm," kata Harry A Poeze sambil menunjuk foto lain Tan Malaka memakai helm coklat yang sedang tertawa.
Dalam foto menuju lapangan Ikada itu juga terlihat Tan Malaka berjalan di belakang Sukarno dan Hatta. Ini menjawab teka-teki selama ini, apakah Tan Malaka hadir dalam rapat itu.
"Ini juga bukti, Tan Malaka berperan besar dalam rapat itu yang meruncingkan perlawanan kepada Jepang," kata Harry.
Menurut Harry A Poeze dalam riwayat hidup Tan Malaka mungkin hanya ada 30 sampai 40 foto, karena gaya hidupnya yang selalu berpindah melintasi beberapa negara dengan banyak nama samaran untuk menghindar kejaran intel dan tentara kolonial.
Harry Poeze mendapatkan foto-foto dari surat kabar lama dan majalah lama, salah satunya foto Tan Malaka muda yang sedang berpose memegang buku dengan potongan rambut di dahi yang belah tengah. Foto itu dibuat saat Tan Malaka baru sampai di Belanda dan foto itu dikirimnya ke kampung halamannya.
Ada juga foto resmi Tan Malaka di sekolah Rijkskweekschool, Belanda dengan pakaian yang sangat necis dan mengenakan topi. Foto ini juga dikirim ke kampung halamannya.
Di Belanda Tan Malaka ikut kesebelasan sepakbola yang kuat, terlihat di foto Tan Malaka bersama teman-teman kesebelasannya. Ia amat mudah dikenali karena kulitnya yang lebih gelap. Selain itu Tan Malaka juga ikut orkestra dan memainkan biola. Dalam foto itu Tan Malaka berada di sudut kanan dan nyaris terpotong.
Ada juga foto Tan Malaka bersama perwakilan partai komunis di berbagai negara, saat ikut kongres partai komunis sedunia pada 1922 di Moskow. Setelah kongres itu, Tan Malaka dikirim partai komunis Rusia ke Asia Tenggara untuk mendirikan partai komunis untuk melawan penjajahan barat.
Setelah itu Tan Malaka selalu diburu polisi rahasia dari Hindia Belanda, Inggris, dan Amerika. Ia harus bersembunyi terus di Muangthai, Hongkong, Filipina, Cina, dengan banyak nama samaran.
Ada foto yang menunjukkan Tan Malaka ditahan polisi di Filipina pada 1927. Waktu itu Filipina dijajah Amerika. Tan Malaka terlihat dikawal polisi Filipina ke ruang pengadilan dan foto Tan Malaka sedang diadili. Foto ini didapat Harry Poeze dari surat kabar lama Filipina, karena itu kualitasnya buruk.
Belakangan Tan Malaka memutuskan hubungan dengan kegiatan komunis dan putus pula hubungan dengan Moskow, Tan Malaka lalu membentuk PARI, Partai Republik Indonesia. Namun karena masih pergi ke sana kemari, Tan Malaka tertangkap polisi Hongkong.
Polisi juga membuat sebuah foto resmi pada 1932 dengan wajah Tan Malaka dan sebuah cermin di sampingnya yang menampakkan raut wajah dari samping. (febrianti)
sumber: www.padangkini.com
Tan Malaka

Tan Malaka atau Sutan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka (lahir Nagari Pandam Gadang, Suliki, Sumatra Barat, 2 Juni 1897 - wafat Jawa Timur, 21 Februari 1949 [1]) adalah seorang aktivis pejuang nasionalis Indonesia, seorang pemimpin komunis, dan politisi yang mendirikan Partai Murba. Pejuang yang militan, radikal dan revolusioner ini banyak melahirkan pemikiran-pemikiran yang berbobot dan berperan besar dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dengan perjuangan yang gigih maka ia dikenal sebagai tokoh revolusioner yang legendaris.
Dia kukuh mengkritik terhadap pemerintah kolonial Hindia-Belanda maupun pemerintahan republik di bawah Soekarno pasca-revolusi kemerdekaan Indonesia. Walaupun berpandangan komunis, ia juga sering terlibat konflik dengan kepemimpinan Partai Komunis Indonesia (PKI).
Tan Malaka menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam pembuangan di luar Indonesia, dan secara tak henti-hentinya terancam dengan penahanan oleh penguasa Belanda dan sekutu-sekutu mereka. Walaupun secara jelas disingkirkan, Tan Malaka dapat memainkan peran intelektual penting dalam membangun jaringan gerakan komunis internasional untuk gerakan anti penjajahan di Asia Tenggara. Ia dinyatakan sebagai "Pahlawan revolusi nasional" melalui ketetapan parlemen dalam sebuah undang-undang tahun 1963.
Tan Malaka juga seorang pendiri partai Murba, berasal dari Sarekat Islam (SI) Jakarta dan Semarang. Ia dibesarkan dalam suasana semangatnya gerakan modernis Islam Kaoem Moeda di Sumatera Barat.
Tokoh ini juga adalah orang yang mendalangi terjadinya pergolakan sosial di wilayah Surakarta setelah pengumuman Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, yang berakibat hilangnya status Daerah Istimewa bagi bekas wilayah Kasunanan Surakarta dan Praja Mangkunagaran.
Riwayat
* Saat berumur 16 tahun, 1912, Tan Malaka dikirim ke Belanda.
* Tahun 1919 ia kembali ke Indonesia dan bekerja sebagai guru disebuah perkebunan di Deli. Ketimpangan sosial yang dilihatnya di lingkungan perkebunan, antara kaum buruh dan tuan tanah menimbulkan semangat radikal pada diri Tan Malaka muda.
* Tahun 1921, ia pergi ke Semarang dan bertemu dengan Semaun dan mulai terjun ke kancah politik
* Saat kongres PKI 24-25 Desember 1921, Tan Malaka diangkat sebagai pimpinan partai.
* Januari 1922 ia ditangkap dan dibuang ke Kupang.
* Pada Maret 1922 Tan Malaka diusir dari Indonesia dan mengembara ke Berlin, Moskwa dan Belanda.
Perjuangan
Pada tahun 1921 Tan Malaka telah terjun ke dalam gelanggang politik. Dengan semangat yang berkobar dari sebuah gubuk miskin, Tan Malaka banyak mengumpulkan pemuda-pemuda komunis. Pemuda cerdas ini banyak juga berdiskusi dengan Semaun (wakil ISDV) mengenai pergerakan revolusioner dalam pemerintahan Hindia Belanda. Selain itu juga merencanakan suatu pengorganisasian dalam bentuk pendidikan bagi anggota-anggota PKI dan SI (Sarekat Islam) untuk menyusun suatu sistem tentang kursus-kursus kader serta ajaran-ajaran komunis, gerakan-gerakan aksi komunis, keahlian berbicara, jurnalistik dan keahlian memimpin rakyat. Namun pemerintahan Belanda melarang pembentukan kursus-kursus semacam itu sehingga mengambil tindakan tegas bagi pesertanya.
Melihat hal itu Tan Malaka mempunyai niat untuk mendirikan sekolah-sekolah sebagai anak-anak anggota SI untuk penciptaan kader-kader baru. Juga dengan alasan pertama: memberi banyak jalan (kepada para murid) untuk mendapatkan mata pencaharian di dunia kapitalis (berhitung, menulis, membaca, ilmu bumi, bahasa Belanda, Melayu, Jawa dan lain-lain); kedua, memberikan kebebasan kepada murid untuk mengikuti kegemaran mereka dalam bentuk perkumpulan-perkumpulan; ketiga, untuk memperbaiki nasib kaum miskin. Untuk mendirikan sekolah itu, ruang rapat SI Semarang diubah menjadi sekolah. Dan sekolah itu bertumbuh sangat cepat hingga sekolah itu semakin lama semakin besar.
Perjuangan Tan Malaka tidaklah hanya sebatas pada usaha mencerdaskan rakyat Indonesia pada saat itu, tapi juga pada gerakan-gerakan dalam melawan ketidakadilan seperti yang dilakukan para buruh terhadap pemerintahan Hindia Belanda lewat VSTP dan aksi-aksi pemogokan, disertai selebaran-selebaran sebagai alat propaganda yang ditujukan kepada rakyat agar rakyat dapat melihat adanya ketidakadilan yang diterima oleh kaum buruh.
Seperti dikatakan Tan Malaka pada pidatonya di depan para buruh “Semua gerakan buruh untuk mengeluarkan suatu pemogokan umum sebagai pernyataan simpati, apabila nanti menglami kegagalan maka pegawai yang akan diberhentikan akan didorongnya untuk berjuang dengan gigih dalam pergerakan revolusioner”.
Pergulatan Tan Malaka dengan partai komunis di dunia sangatlah jelas. Ia tidak hanya mempunyai hak untuk memberi usul-usul dan dan mengadakan kritik tetapi juga hak untuk mengucapkan vetonya atas aksi-aksi yang dilakukan partai komunis di daerah kerjanya. Tan Malaka juga harus mengadakan pengawasan supaya anggaran dasar, program dan taktik dari Komintern (Komunis Internasional) dan Profintern seperti yang telah ditentukan di kongres-kongres Moskwa diikuti oleh kaum komunis dunia. Dengan demikian tanggung-jawabnya sebagai wakil Komintern lebih berat dari keanggotaannya di PKI.
Sebagai seorang pemimpin yang masih sangat muda ia meletakkan tanggung jawab yang sangat berat pada pundaknya. Tan Malaka dan sebagian kawan-kawannya memisahkan diri dan kemudian memutuskan hubungan dengan PKI, Sardjono-Alimin-Musso.
Pemberontakan 1926 yang direkayasa dari Keputusan Prambanan yang berakibat bunuh diri bagi perjuangan nasional rakyat Indonesia melawan penjajah waktu itu. Pemberontakan 1926 hanya merupakan gejolak kerusuhan dan keributan kecil di beberapa daerah di Indonesia. Maka dengan mudah dalam waktu singkat pihak penjajah Belanda dapat mengakhirinya. Akibatnya ribuan pejuang politik ditangkap dan ditahan. Ada yang disiksa, ada yang dibunuh dan banyak yang dibuang ke Boven Digoel, Irian Jaya. Peristiwa ini dijadikan dalih oleh Belanda untuk menangkap, menahan dan membuang setiap orang yang melawan mereka, sekalipun bukan PKI. Maka perjaungan nasional mendapat pukulan yang sangat berat dan mengalami kemunduran besar serta lumpuh selama bertahun-tahun.
Tan Malaka yang berada di luar negeri pada waktu itu, berkumpul dengan beberapa temannya di Bangkok. Di ibu kota Thailand itu, bersama Soebakat dan Djamaludddin Tamin, Juni 1927 Tan Malaka memproklamasikan berdirinya Partai Republik Indonesia (PARI). Dua tahun sebelumnya Tan Malaka telah menulis "Menuju Republik Indonesia". Itu ditunjukkan kepada para pejuang intelektual di Indonesia dan di negeri Belanda. Terbitnya buku itu pertama kali di Kowloon, Hong Kong, April 1925.
Prof. Mohammad Yamin, dalam karya tulisnya "Tan Malaka Bapak Republik Indonesia" memberi komentar: "Tak ubahnya daripada Jefferson Washington merancangkan Republik Amerika Serikat sebelum kemerdekaannya tercapai atau Rizal Bonifacio meramalkan Philippina sebelum revolusi Philippina pecah…."
Madilog
Madilog merupakan istilah baru dalam cara berpikir, dengan menghubungkan ilmu bukti serta mengembangkan dengan jalan dan metode yang sesuai dengan akar dan urat kebudayaan Indonesia sebagai bagian dari kebudayaan dunia. Bukti adalah fakta dan fakta adalah lantainya ilmu bukti. Bagi filsafat, idealisme yang pokok dan pertama adalah budi (mind), kesatuan, pikiran dan penginderaan. Filsafat materialisme menganggap alam, benda dan realita nyata obyektif sekeliling sebagai yang ada, yang pokok dan yang pertama.
Bagi Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika) yang pokok dan pertama adalah bukti, walau belum dapat diterangkan secara rasional dan logika tapi jika fakta sebagai landasan ilmu bukti itu ada secara konkrit, sekalipun ilmu pengetahuan secara rasional belum dapat menjelaskannya dan belum dapat menjawab apa, mengapa dan bagaimana.
Semua karya Tan Malaka dan permasalahannya didasari oleh kondisi Indonesia. Terutama rakyat Indonesia, situasi dan kondisi nusantara serta kebudayaan, sejarah lalu diakhiri dengan bagaimana mengarahkan pemecahan masalahnya. Cara tradisi nyata bangsa Indonesia dengan latar belakang sejarahnya bukanlah cara berpikir yang teoritis dan untuk mencapai Republik Indonesia sudah dia cetuskan sejak tahun 1925 lewat Naar de Republiek Indonesia.
Jika membaca karya-karya Tan Malaka yang meliputi semua bidang kemasyarakatan, kenegaraan, politik, ekonomi, sosial, kebudayaan sampai kemiliteran (Gerpolek-Gerilya-Politik dan Ekonomi, 1948), maka akan ditemukan benang putih keilmiahan dan ke-Indonesia-an serta benang merah kemandirian, sikap konsisten yang jelas dalam gagasan-gagasan serta perjuangannya.
Pahlawan
Peristiwa 3 Juli 1946 yang didahului dengan penangkapan dan penahanan Tan Malaka bersama pimpinan Persatuan Perjuangan, di dalam penjara tanpa pernah diadili selama dua setengah tahun. Setelah meletus pemberontakan FDR/PKI di Madiun, September 1948 dengan pimpinan Musso dan Amir Syarifuddin, Tan Malaka dikeluarkan begitu saja dari penjara akibat peristiwa itu.
Di luar, setelah mengevaluasi situasi yang amat parah bagi Republik Indonesia akibat Perjanjian Linggajati 1947 dan Renville 1948, yang merupakan buah dari hasil diplomasi Sutan Syahrir dan Perdana Menteri Amir Syarifuddin, Tan Malaka merintis pembentukan Partai MURBA, 7 November 1948 di Yogyakarta.
Pada tahun 1949 tepatnya bulan Februari Tan Malaka hilang tak tentu rimbanya, mati tak tentu kuburnya di tengah-tengah perjuangan bersama Gerilya Pembela Proklamasi di Pethok, Kediri, Jawa Timur. Tapi akhirnya misteri tersebut terungkap juga dari penuturan Harry A. Poeze, seorang Sejarawan Belanda yang menyebutkan bahwa Tan Malaka ditembak mati pada tanggal 21 Februari 1949 atas perintah Letda Soekotjo dari Batalyon Sikatan, Divisi Brawijaya[1].
Direktur Penerbitan Institut Kerajaan Belanda untuk Studi Karibia dan Asia Tenggara atau KITLV, Harry A Poeze kembali merilis hasil penelitiannya, bahwa Tan Malaka ditembak pasukan TNI di lereng Gunung Wilis, tepatnya di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri pada 21 Februari 1949.
Namun berdasarkan keputusan Presiden RI No. 53, yang ditandatangani Presiden Soekarno 28 Maret 1963 menetapkan bahwa Tan Malaka adalah seorang pahlawan kemerdekaan Nasional.
Tan Malaka dalam fiksi
Dengan julukan Patjar Merah Indonesia Tan Malaka merupakan tokoh utama beberapa roman picisan yang terbit di Medan. Roman-roman tersebut mengisahkan petualangan Patjar Merah, seorang aktivis politik yang memperjuangkan kemerdekaan Tanah Air-nya, Indonesia, dari kolonialisme Belanda. Karena kegiatannya itu, ia harus melarikan diri dari Indonesia dan menjadi buruan polisi rahasia internasional.
Salah satu roman Patjar Merah yang terkenal adalah roman karangan Matu Mona yang berjudul Spionnage-Dienst (Patjar Merah Indonesia). Nama Pacar Merah sendiri berasal dari karya Baronesse Orczy yang berjudul Scarlet Pimpernel, yang berkisah tentang pahlawan Revolusi Prancis.
Dalam cerita-cerita tersebut selain Tan Malaka muncul juga tokoh-tokoh PKI dan PARI lainnya, yaitu Muso (sebagai Paul Mussotte), Alimin (Ivan Alminsky), Semaun (Semounoff), Darsono (Darsnoff), Djamaluddin Tamin (Djalumin) dan Soebakat (Soe Beng Kiat).
Kisah-kisah fiksi ini turut memperkuat legenda Tan Malaka di Indonesia, terutama di Sumatera.
Beberapa judul kisah Patjar Merah:
* Matu Mona. Spionnage-Dienst (Patjar Merah Indonesia). Medan (1938)
* Matu Mona. Rol Patjar Merah Indonesia cs. Medan (1938)
* Emnast. Tan Malaka di Medan. Medan (1940)
* Tiga kali Patjar Merah Datang Membela (1940)
* Patjar Merah Kembali ke Tanah Air (1940)
Buku
* Menuju Republik Indonesia
* Dari Pendjara ke Pendjara, autobiografi
* Madilog
* Gerpolek
Referensi
1. ^ a b "Misteri Kematian Tan Malaka Terungkap", Kompas, diakses Juli 2007
wikipedia.org
Langganan:
Postingan (Atom)
